Aplikasi yang satu ini berhasil menumbangkan Instagram sebagai aplikasi yang paling banyak diunduh, benar Tik Tok. Aplikasi ini berasal dari negara Cina, lebih tepatnya dibentuk oleh Zhang Yi Ming, pendiri ByteDance. Lulusan software engineer ini mendirikan perusahaannya pada tahun 2012 dan melalui ByteDance-lah Tik Tok berhasil dibentuk. Ide awalnya yang cukup simpel yaitu membuat suatu aplikasi dimana creator bisa membuat video berdurasi 15 detik. Video tersebut bisa berupa kenangan atau momen yang berharga. Selain itu, Tik Tok juga mendukung penggunanya agar tetap kreatif dalam membuat sebuah video berdurasi singkat tersebut. Tetapi, tahukah kamu jika Tik Tok awalnya mempunyai nama lain? Benar, Duo Yin. Duo Yin merupakan nama awal dari Tik Tok yang muncul pada tahun 2016. Namun, seiring berkembangnya Duo Yin dan pengguna yang semakin mendunia, maka Duo Yin berganti nama menjadi Tik Tok. Terdengar kabar bahwa Yotube siap saingi Tiktok dengan fitur terbarunya yaitu Youtube Shorts.
Dengan semakin maraknya Tik Tok di masyarakat sekarang, banyak aplikasi yang bermunculan dengan menawarkan fitur yang serupa dengan Tik Tok, dimulai dari Reels yang dirilis dari Brazil, Triller yang dirilis dari New York dan masih banyak lagi. Namun, beberapa aplikasi ini masih terdengar cukup awam bagi masyarakat Indonesia, mengapa? Karena belum sempat booming di masyarakat. Tetapi, apa yang terjadi jika YouTube juga menawarkan fitur yang serupa?
Baca juga: YouTube Select, Program Baru yang Untungkan Brand dan Pengiklan
YouTube sedang merancang fitur barunya yaitu YouTube Shorts yang memiliki fitur mirip dengan Tik Tok. Telah dilansir bahwa YouTube Shorts ini sudah tersedia versi beta-nya yang diuji coba di Amerika Serikat. Meskipun belum menawarkan fitur yang rumit dan lengkap seperti TikTok, tetapi dasarnya sama. Fitur yang ditawarkan oleh YouTube Shorts berupa kamera multi-segmen yang memudahkan creator untuk merangkai klip dengan cepat, berbagai pilihan trek musik (dengan katalog dari “lebih dari 250 label dan penerbit”), dan alat pembuatan teks yang tampak canggih. “Kami benar-benar ingin menciptakan arena kreativitas di sini, tempat kami memberikan bahan mentah kepada pembuat untuk membuat video hebat, ” kata Todd Sherman, pimpinan produk YouTube untuk Shorts.
Seperti Tik Tok, YouTube Shorts ini juga menawarkan fitur swipe video yang tidak habis-habisnya. Tak lupa ada fitur mengikuti creator yang kamu sukai, atau dalam hal ini berlangganan kepada creator tersebut (diambil dari fitur YouTube sendiri), serta mencari dan mengedit audio yang diinginkan untuk video. Untuk algoritma pada YouTube Shorts ini juga belum berkembang dengan pesat. Hanya akan ada satu halaman yang dilihat yaitu beranda, atau For You Page pada Tik Tok. Serta masih banyak fitur yang belum ditawarkan oleh YouTube Shorts ini, seperti fitur stitch pada Tik Tok, membalas komentar dengan video, dan halaman untuk melihat video dari creator yang telah kamu subscribe.
Meskipun masih banyak kekurangan, YouTube Shorts sendiri tidak berniat untuk membuat aplikasi terpisah seperti Tik Tok, melainkan ini akan menjadi tambahan fitur pada aplikasi YouTube yang telah ada. Maka, menurut kami, ini merupakan salah satu trik khusus dari YouTube untuk menambah para creator di YouTube. Tak lupa bahwa YouTube kini perlahan telah menyaingi televisi dan juga program yang ditawarkan oleh stasiun televisi. Para creator juga diberikan lebih banyak pilihan mengenai jenis konten yang ingin dibagikan, dimulai dari video, story yang akan menghilang setelah 24 jam (sama seperti Instagram Story), live streaming yang bisa disimpan sebagai video (sama seperti Live Instagram yang bisa disimpan sebagai konten Instagram TV), ditambah lagi YouTube Shorts yang sedang dalam perkembangan. YouTube is surely looking for a whole package of contents in one application!

